Dalam Secarik Rindu di Penghujung Tiga
Andai kata kau membaca ini, biar kuingatkan jika kita bertemu dalam terik April, bukan kelabu Maret seperti saat ini.
Bersama gemintang yang bertabur, pernahkah sekali saja terpikir jika kau sebetulnya tidak ingin membiarkan waktu melebur? Selayaknya aku yang seolah terjebak dalam masa ketika kau hadir. Angin, musik, ruangan, serta berbagai partikel yang masih berteriak senada itu perlahan berubah. Kau tahu, semuanya karena ketiadaanmu. Di sana, pada batu bertingkat tiga di sisi langit itu.
Tentang rumah dengan halaman berbunga yang sering kau cita-citakan. Seandainya saja kau memilih pergi lima bulan setelah hari itu, sungguh semuanya pasti terkabulkan. Di sini, berbagai bunga tertanam seperti yang kau inginkan. Sempat aku menentang perihal pot yang akan menempati tempatmu biasa duduk. Namun lantas aku ingat, kau pasti tidak akan sekalipun membenci bunga. Termasuk bunga merah muda yang kini menempati tempatmu itu.
Lalu, tentang setiap malam ketika kau mengajakku untuk naik ke atap. Yang kemudian aku menolaknya dengan alasan yang menurutmu sangat masuk akal tetapi menyebalkan, percayalah, aku pun berpikir demikian. Karena sekarang, sudah beberapa kali aku datang ke atap sambil berharap jika sekali saja kau duduk bersandar dan menatap bentang awan seperti dulu.
Satu lagi. Rupanya kau tetap pergi meski hadirmu sebatas ilusi. Sering aku bertanya-tanya, kapan kau akan kembali? Dan tentu jawabannya adalah sama. Persis seperti yang terkandung kalimat terakhir yang kau ucapkan di bawah hujan cahaya malam itu.
‘Aku pergi dulu.’
Sepertinya, hingga suatu hari nanti kau tidak akan mengerti betapa aku berharap agar kau menghapus kata ‘dulu’ dalam kalimat itu. Kau tahu, implikasinya seolah kau akan kembali. Padahal mungkin saja tidak.
Sempurna sudah pamitmu itu membuyarkan dinding tangisku. Selamat
ya, kini kau bebas mendatangi jembatan yang kau sukai itu. Tidak lagi terikat
pada kesepianku yang tiada habisnya. Terima kasih juga, sebab pada akhirnya
hadirmu dalam tujuh bulan itu berhasil memaknai langit jauh lebih dalam
dibanding siapapun.
Komentar
Posting Komentar